Thursday, 23 July 2009

Anne of Green Gables


Jujur ya, awalnya saya pikir Anne ini cerewet banget. Pokoknya mode mencela saya uda ON deh pas baca buku ini. Tapi karena akhirnya saya insyaf, jadilah postingan ini berisikan 'bagusnya' buku ini.

Buku ini bercerita tentang harapan. Anak yatim piatu yang 'salah kirim' pun bisa mengambil hati orang tua angkatnya. Iya. Anne adalah anak yatim piatu yang dikirimkan pada kakak adik Matthew dan Marilla. Mereka sebenarnya menginginkan anak laki-laki untuk membantu mengurusi lahan. Tapi karena 'kuasa illahi', malah Anne yang dikirim ke mereka. Anne pun mulai berkicau. Tentang rambutnya yang merah. Tentang 'keluarganya' terdahulu. Tentang kebun dan bunga di sekitar rumahnya. Kicauan Anne ini akhirnya mengambil hati Marilla. Matthew aja yang jarang ngomong dan jarang bergaul akhirnya mau bela-belain beliin baju baru untuk Anne. Dengan banyak gelembung. Seperti yang dimintanya.

Pertemanan karib Anne dengan Diana sempat diwarnai insiden 'anggur merah'. Insiden ini membuat orang tua Diana melarangnya bermain dengan Anne. Tapi lagi-lagi 'kuasa illahi' memberikan kesempatan bagi Anne untuk meraih hati orang tua Diana. Mereka bisa berteman kembali deh.

Bagian paling mengharukan adalah ketika Anne melepaskan cita-citanya berkuliah meski beasiswa sudah ditangannya. Ia memilih menemani Marilla di rumahnya. Ouch..so sweet. Saya aja jadi terharu.

Ayo ayo ayo.. yang mau baca bukunya.. Monggo...

Gambar diambil dari sini.

Problem Solving 101

Seperti saya bilang di multiply, buku ini saya beli karena saya menganggap diri saya cerdas. Halah. Tapi gak nyesel lho beli buku ini. Meski langkah-langkah yang diberikan gak ada yang 'fenomenal', tapi penjelasan sederhana sekali. Gak rumit. Harusnya sih semua orang bisa mengerti. Bisa mencoba.

Intinya, untuk menyelesaikan masalah (eh.. problem solving = penyelesaian masalah kan ya?!), pertama kita harus bisa mendefinisikan masalahnya. Bener ini. Mana bisa nyelesaiin masalah, kalo masalahnya apa, kita gak tau. Okay, langkah selanjutnya adalah membuat alternatif pilihan untuk menyelesaikan. Semua alternatif yang ada didata. Lalu, pilih mana yang menurut anda paling signifikan efeknya pada masalah. Pilih aja. Kita juga gak dituntut untuk melakukan seleksi dengan metode rumit nan canggih kok. Ya hanya menurut kita aja. Setelah dipilih, dilakukan. Dicoba. Hasilnya, dievaluasi. Apakah benar ini solusi paling tepat. Kalo iya, lanjutkan hingga masalahnya terselesaikan. Kalo bukan gimana? Ya namanya juga manusia, mungkin salah. Normal. Itu gunanya kita evaluasi. Kalau ternyata pilihan kita ternyata bukan yang paling tepat, ya pilih lagi. Mana yang menurut anda paling cepat. Coba lagi, evaluasi lagi. Ulangi prosesnya hingga masalah terselesaikan.

Sebenarnya menurut saya, ini gak beda jauh dengan asas PDCA kebanggaan anak TI itu. Plan - Do - Check - Act. Ah.. saya mau nyoba. Untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam hidup saya. Halah.

Gambar dari sini.

Saturday, 11 July 2009

To Tokyo to Love


Penghargaan bagi salah satu blog favorit saya. Buku ini ditulis oleh sang blogger. Beliau pernah tinggal cukup lama di Jepang, dan sepertinya sangat menyukai negeri ini.

Cerita tentang Nina, calon mempelai gagal, akibat Ian (si calon pria) melakukan one night stand - yang diakunya sebagai 'kecelakaan' - dan menghamili sang wanita lain itu. Nina lalu hijrah ke Jepang dengan beasiswa.

Banyak sekali kebetulan demi kebetuan menghampiri Nina. Kebetulas bos besar Jepangnya pindah ke Jakarta, kebetulan si bos pernah punya anak perempuan yang patah hati, dan kebetulan kebetulan lainnya.

Tokyo dengan ritme hidupnya yang cepat diharap Nina mampu menghapus bayangan tunangan hidung belang yang mematahkan hatinya. Muncullah 2 sosok 'pelipur lara' untuk Nina. Men in black, sang pria misterius di kereta, dan Takung, teman chat yang 'klik' banget. Takung sendiri pun punya sosok misterius yang dicarinya. Takung dan Nina bertukar cerita mengenai hari-hari dan sosok misterius masing-masing tanpa sadar bahwa mereka berdua sebenernya saling mencari.

Endingnya sudah bisa ditebak dari halaman 100an. No offense ya mbak Dev, tapi masak Nina dan Takung gak lebih pintar dari saya sih dalam mendeduksi cerita masing-masing. Takung kan asisten profesor dan Nina adalah mahasiswa S2. Apalagi Nina suka berkhayal. Agak ajaib kalo Nina sama sekali gak mengkhayalkan (atau mengharapkan) pertemuan mereka berdua ini. Eh, tapi ini kan cerita rekaan ya.

Buat mbak Dev, saya lebih seneng baca Hairquake :D

Gambar diambil dari blog sang penulis.

Tuesday, 7 July 2009

Untuk kukasihi (One for My Baby)

Gara-gara liat deretan bulu-bukunya Tony Parson, kok saya jadi penasaran kenapa buku-bukunya laris diterjemahkan. Sebenernya pengen memulai dengan Man and Boy, tapi kok ndak ada. Jadi saya angkut buku yang ini aja.

Alfie sang tokoh utama masih berduka atas kematian tiba-tiba sang istri. Hongkong, tempat Alfie bertemu (dan kehilangan) istrinya menjadi tempat yang menyakitkan sisi psikisnya. Ia kembali ke London dan menjadi guru bahasa Inggris bagi para pendatang. Alfie punya murid dengan berbagai kebangsaan dan motif belajar. Ada murid wanita yang menarik dan 'ditaksir' banyak orang. Ada yang begitu lelahnya bekerja sehingga sering ketiduran saat belajar.

Mungkin karena kepesimisan Alfie akan cinta-cinta yang mungkin ia dapatkan di kemudian hari, ia malah jadi tidur dengam 3 muridnya. Gak menjadi real relationship juga sih. Karena kayaknya si murid juga menyadari 'kelabilan' sang guru.

Plot nya dibikin bolak balik tanpa ada penanda waktu. Pembaca perlu menebak sendiri setting waktu di tiap babnya. Mungkin karena ini buku terjemahan, pembaca jadi gak bisa bedain tenses nya. Yah nikmati aja.

Oya, di back cover dibilang kalau harmonisnya keluarga George Chang membuat Alfie jadi seperti mendamba cinta yang sama gitu. Tapi kok saya gak menangkap gambaran harmonisnya keluarga George Chang ya? Waktu ada salah satu anak George yang mutusin pindah rumah ke kota lain bersama keluarganya, George biasa aja. Malah Alfie yang sedih. Aneh.

Lalu muncul Jackie, yang belajar sastra inggris supaya bisa kuliah lagi. Memperbaiki nasibnya. Dia ini single mom yang berhasil melepaskan diri dari suami abusive. Bisa ditebak, Alfie akhirnya 'tertarik' dengan karakter Jackie.

Buku ditutup dengan kematian nenek Alfie. Lalu menyetel lagu One for My Baby nya Frank Sinatra. Ealah.. baru ngeh kenapa judulnya One for My Baby deh.

Gambar diambil dari Gramedia.