Thursday, 16 April 2009

Chaos at work


Meski memendam iri dengki pada buku-buku yang berasal dari blog, toh akhirnya tangan ini menggenggam buku Chaos at work juga. Halah.. ini mah konsumtif aja namanya. Hehehehe.

Bos gila yang membuat sengsara hidup sang penulisnya. Emang bikin terbahak-bahak deh ulahnya si Bos. Dari yang malu-maluin minta tanda tangan ama orang terkenal di pesawat, melakukan mission impossible masang pintu di rumah yang lokasinya uda 'enggak banget', sampe gaya nawarnya ama supplier. Mottonya top banget deh. Impossible we do, miracle we try. GILA!!!!

Silahkan baca buat yang pengen terbahak-bahak.

Gambar diambil dari blognya sang penulis.

Wednesday, 15 April 2009

In Their Shoes

Awalnya, saya membeli buku ini untuk dihadiahkan kepada bos pada ulang tahunnya. Namun pas dipikir-pikir, saya belum pernah melihat si bos memegang (apalagi membaca) buku yang tidak ada hubungannya dengan disaster. Jadilah akhirnya bukunya saya baca sendiri, hehehe.

Jangan terkecoh dengan judulnya yang mirip judul sebuah film. Buku ini bukan tentang film itu (In Her Shoes). Buku ini berisi interview dengan berbagai wanita yang memiliki berbagai pekerjaan. Ya, karena ini western based, mungkin ada beberapa profesi yang masih asing disini, atau malah sudah ada, tapi enggak banget menurut kita. Meski juga ada beberapa yang sudah familiar disini.

Setiap bagiannya merupakan bagian terpisah. Kita gak perlu membaca berurut dari depan ke belakang (atau dari belakang ke depan, seperti yang saya lakukan karena lagi iseng). Yang paling menarik untuk saya adalah, orang-orang yang diwawancarai disini adalah orang-orang yang sangat menikmati pekerjaannya. Sebagian besar dari mereka sudah cukup berumur (40an) dan telah melewati masa-masa dimana mereka awalnya bekerja di beberapa pekerjaan yang mereka tidak nikmati. Most of them consider that as an opportunity untuk akhirnya mengetahui pekerjaan apa yang suits them most. Tidak ada yang menyesal pernah melakukan (atau memilih) pekerjaan yang ‘salah’.

Kalau anda kira, semua pekerjaan disini adalah pekerjaan yang bergaji besar, glamor, anda salah besar. Memang disini ada Business Executive, CEO, talent agent, actor/actess, TV Show cretaor, sampai movie studio executive. Judul kerjaannya aja uda keren banget yak. Tapi disini juga ada teacher, librarian, firefighter, yoga instructor, sampai nanny. Bayangin, ada orang yang memang suka dengan anak-anak dan lalu beneran niat jadi nanny, dan (yang paling mengesankan buat saya adalah) menikmati pekerjaannya. Ada lagi yang cerita bahwa dia bekerja selama 5 tahun sebelum akhirnya mendapati bahwa bukan itu pekerjaan yang paling cocok untuknya. Waktu indeed adalah jawaban dari hampir semua pertanyaan kan.

Cocok nih buat dibaca ama orang yang
a. Gak menikmati apa yang dikerjakannya sekarang ini
b. Krisis identitas, mau kerja apa
c. Krisis kepercayaan diri, ragu apakah kegiatan yang dinikmatinya bisa dijadikan ‘pekerjaan’
Gabungan dari beberapa pilihan diatas, hahaha

Gambar nyolong dari Amazon

Situs sang penulis disini

Thursday, 2 April 2009

The Maling of Kolor

Judul yang aneh.

Cerita konyol-konyolan tentang misi pencurian kolor. Iihhhh kolor. Buat apa dicuri???
Yak...seratus buat anda *suara tepuk tangan, plok plok plok*. Buat melet orang.

Copet sangar yang ternyata dirumah takut ama istri. Asisten copet yang ngelakuin 'proyek' ini demi melunasi hutan judi. Anggota baru, orang dari desa yang pergi ke kota untuk menyenangkan pacar.  Bodyguard merangkap penjaga pintu yang badannya gede dan nyeremin. Pengawal lain yang kebanci-bancian. Ya itu penggambaran tokoh-tokohnya.

Gaya ngelucu nya mirip ama gaya Adhitya Mulya. Make footnote yang kurang penting dan kurang bermanfaat, juga mirip ama Adhitya Mulya. Hehehe..kok jadi sinis begini.

Anyway, saya beli buku ini juga tho karena saya menghargai (campur iri dengki, masak dia bisa gue gak bisa) karya si Roy.

Gambar diambil dari situsnya Roy

Doroymon, A Wonderful Masa Jadul

Si Roy, adik kelas saya di kampus, mengabadikan kenangan (konyol namun indah)nya selama di kampus ke dalam buku ini. Karena saya mengalami (duluan) hampir semua yang Roy alami di buku ini, maka unsur sentimental dan mendayu-dayu lah yang mewarnai hati saya saat baca buku ini. Aduh... mendayu-dayu...bahasaku...

Mulai dari bentakan-bentakan dari senior saat Ospek *di tempat kami, namanya bukan ospek lagi sih, berubah jadi PPAM, yang saya lupa kepanjangannya*. Reaksi awal yang takut, makin hari malah bergeser menjadi konyol. Ya..kalo keseringan dibentak dan dimarahin, kita kan makin lama makin bisa nebak kapan bakal dimarahin. Udah gitu, lama-lama kok terasa menggelikan ya bentakan-bentakan mereka, hihihi.

Ketika sudah masuk masa kuliah, ada Gamtek yang menyita jasmani dan rohani. Ada Perancangan Produk yang ajaib. Ada KP dan skripsi yang membuat membuka mata para mahasiswa tentang susahnya mencari kerja. Ow dan tentu saja, bagian yang diabadikan Roy di relung hati yang paling dalam *taelaaa*, persahabatan dan kekompakan yang indah dari teman-teman seangkatannya.

Ah...pokoknya jadi nostalgia deh baca buku ini.

Gambar diambil dari situsnya si Roy

After the Honeymoon

Novel Ollie yang diduga menceritakan kisahnya pasca menikah. Ternyata salah. Karena Ollie menulis novel ini ketika ia belum menikah.

Tentang Barra dan Ata. Pasangan pengantin baru. Menikah dengan cinta yang menggelora. Beda sifat, beda cara membelanjakan uang, beda jumlah gaji, tapi mengira semuanya bisa diselesaikan dengan cinta. Mengira. Karena ternyata baru diawal pernikahan mereka saja, masalah sudah mulai terlihat. Barra yang gak bisa nyetir, sehingga Ata yang harus menyetir pulang pergi kantor rumah. Mana rumah yang mereka beli adanya di ujung dunia. Ata yang sering (harus) kerja sampai larut malam. Barra yang demen beli gadget. Oh plus pasangan (yang tampak) ideal, Jeff dan Widi, kakak ipar dan kakak Ata yang dijadikan role model oleh orang tua Ata. Di keluarga Barra pun, ada sosok kakak yang dijadikan role model oleh orang tua Barra. Bikin kisruh aja.

Seperti novel-novel happy ending lainnya, pelajaran dari novel ini adalah:
a. yang tampak bagus dari luar, tidak selalu bagus didalamnya
b. selama masih ada cinta, sinisme mertua pun bisa dilibas. Yang penting kan cinta, hahaha.

Sedikit pertanyaan buat Ollie,
Barra diceritakan gak bisa (atau gak mau?) nyetir mobil karena trauma masa kecil. Di bagian depan, trauma Barra ini ditekankan sekali. Tapi ditengah, kok ajaibnya Barra bisa nyetir mobil di Solo, jalan-jalan keliling kota dengan Putri, sang calon selingkuhannya itu? Dan lalu di bagian akhir, Barra kembali trauma dengan menyetir, sehingga perlu ngambil les menyetir. 
Ini ada logika yang saya gak ngerti, atau ada bagian cerita yang terpotong, atau disengaja?

Ditunggu klarifikasinya ya Lie...

Oya, si Iyra membuat review juga disini.

Gambar diambil dari situsnya Ollie juga.