Sunday, 22 March 2009

Tea for Two

Karya Clara Ng kedua yang saya baca. Yang pertama adalah Unreality show.

Menceritakan kisah Sassy, seorang wanita pemilik 'biro jodoh'. Menikah dengan pria romantis yang tampak sebagai ideal husband. Namun ternyata, sejak masa bulan madunya, sang suami suka menganiaya secara verbal dan bahkan fisik. Sassy bertahan. Karena apa? Karena Sassy terus menerus berhasil membuat dirinya sendiri percaya bahwa kelakuan rusak sang suami ini dilakukan atas nama cinta. Halah... Saya awalnya membodoh-bodohi si Sassy ini, karena di zaman seperti ini dimana informasi beredar dimana-mana, kok ya masih ada yang percaya dengan kekerasan atas nama cinta *lho kok saya yang jadi esmosi ya*. Diujung cerita, ternyata dikasih tambahan informasi bahwa latar belakang keluarga broken home Sassy mempengaruhi jalan pikiran Sassy mengenai keluarga. Sassy kecil menyalahkan dirinya sendiri atas kelakuan bapak nya yang meninggalkan keluarganya. Sassy kecil yang menderita karena besar tanpa sosok ayah, tidak ingin anaknya mengalami penderitaan yang sama. Sepertinya itulah alasan ia bertahan dalam perkawinan penuh kekerasan ini.

Ceritanya biasa aja, menurut saya.
Mungkin karena saya gak punya pengalaman dengan anak-anak dari keluarga broken home, saya gak dapat gambaran seperti apa efek psikologis besar di keluarga yang broken home terhadap kejiwaan si anak.

Saya malah mengira bahwa buku ini akan banyak berisi konsep Tea for Two, perusahaan perjodohan Sassy itu.

Gambar diambil dari Bukabuku