Saturday, 31 January 2009

5 cm

Agak terlambat bacanya ya? Biarlah.
Udah denger dari dulu sih. Tapi entah kenapa gagal mulu niat untuk beli (dan baca) buku ini. Well, akhirnya sekarang saya tahu kenapa gagal mulu belinya. Karena selalu terkalahkan sama buku lainnya. Habis isinya biasa aja. Baca lebih lanjut deh.

Tokoh (tokoh) utama dalam buku ini adalah 5 sahabat. Empat diantara nya pria, dan satu wanita. Seperti biasa, ada cinta-pada-sahabat-yang-malu-ngungkapin-karena-takut-merusak-persahabatan itu. Kelima sobat ini sampai pada masa nya mereka 'mati gaya', bingung mau ngapain lagi. Kayaknya segala rupa kegiatan yang menyenangkan, yang garing, yang lucu, yang konyol, dan memalukan sudah dilakukan bersama. AKhirnya salah satu dari mereka mengusulkan untuk gak ketemuan sama sekali selama 3 bulan.

Setelah 3 bulan, mereka janjian ketemu di stasiun Ps. Senen. Ternyata mereka diajak pergi mendaki Mahameru. Pendakian yang mengubah hidup mereka. Oh oh oh...

Jujur saja, saya masih belum menangkap bagaimana perpisahan 3 bulan dan pendakian beberapa hari ke puncak Mahameru untuk melaksanakan upacara bendera disana mampu mengubah cara pandang, dan pola pikir kelima (plus satu) sahabat ini. Kalau Ian, salah satu anggota sahabat ini merasa segalanya mungkin setelah ia berhasil menyelesaikan skripsi dalam 2 bulan saja, itu pun saya masih belum merasa kehebatannya. Lalu pendakian gunung? Cerita salah seorang pendaki gunung, yang juga mahasiswa reformasi, yang meninggal dalam pendakian, mampu menumbuhkan kecintaan pada tanah air. Hm...

Mungkin karena saya belum pernah naik gunung. Atau karena saya gak punya sohib erat yang kemana-mana dan ngapa-ngapain bareng. Atau karena proses pengerjaan skripsi saya lempeeeng aja terus. Saya jadi gak ngerti kenapa kisah -yang saya anggap- biasa-biasa aja ini jadi look so special.

Lalu, begitu banyaknya lirik lagu yang ditempelin di segala suasana, malah bikin saya males. Asli, 80% lirik yang dimasukkin disana, saya gak baca.

Kalau ada diantara kamu yang suka buku ini, bisa dibagi ceritanya kepada saya, kok bisa? Maksudnya, apa yang membuat kamu suka? Mungkin saya butuh pencerahan disini. Gambar diambil dari friendster

Thursday, 8 January 2009

Me Talk Pretty One Day


Karena baca review yang mengatakan buku ini lucu lah saya akhirnya beli dan baca buku ini. Memang dasar penyakit orang yang belajar bahasa inggrisnya pas udah dewasa, jadilah untuk menangkap kelucuan buku ini, kalimat-kalimatnya harus dibaca lebih dari satu kali.

Si David Sedaris ini rupanya menceritakan hidupnya sendiri. Yang isinya konyol-konyol. Pembaca diajak untuk ngetawain dirinya sendiri. Ngetawain si David Sedaris ini. Yang dia dipanggilin terapis untuk memperbaiki ucapan 's' yang selama ini lebih terdengar seperti 'th'. Bukannya membaik, si David malah mencari kata pengganti untuk semua kata yang mengandung huruf S. Sampai akhirnya si terapis menyerah putus asa. Lalu cerita di kereta api, di Perancis, dimana ada orang yang jelas-jelas ngomong di depan muka mereka mencurigai bahwa si David ini adalah pencopet di kereta. Sama sekali tidak mengetahui bahwa sang tersangka ini sama-sama orang Amerika, yang off course bisa bahasa inggris. Emang orang Perancis gak ngomong bahasa Inggris karena mereka gak bisa? Bukan. Itu cuma karena mereka gak mau. Juga tentang tes IQ itu.

Ah...baca sendiri deh kalo mau ngetawain si David. Jadi gak lucu kalo diceritain disini.

Btw, aliran menertawakan diri sendiri gini setipe ama alirannya si Raditya Dika itu gak ya?

Gambar diambil dari sini