Bukunya saya beli dalam rangka misi menghabiskan 'hadiah' dengan sesuatu yang 'berbeda'. Sebenarnya di Gramed ada beberapa buku tentang Ramayana (dan Mahabarata). Saya memilih yang kombo, satu buku berisi 2 cerita. Pilihan yang kayaknya salah.Sesuai dengan yang saya ingat dari acara tv masa kecil, Ramayana berisi cerita dengan Rama sebagai tokoh sentralnya. Rama adalah putra mahkota kerajaan Kosala. Ia adalah putra idaman orang tua, murid idaman guru, dan pria idaman wanita. Bayangin sendiri deh karakternya. Hihihi.
Dalam perjalanannya mencari 'ilmu', Rama bertemu dengan Sita. Nah Sita ini cantik rupawan dan digandrungi banyak pria *eh...kok mirip ama temen saya ya... hahaha*. Menikahlah mereka. Beberapa waktu kemudian, ketika Destarata, ayah Rama, mau menobatkan Rama menjadi rasa, ada ibu tiri yang tidak terima *owh sooo typical*. Dengan trik khusus khas wanita, Destarata gak jadi menobatkan Rama. Udah gagal jadi raja, diasingkan pula dia. Malang benar nasibnya. Cerita selanjutnya uda pada tau kan? Kita lanjutkan pada perasaan saya pada cerita di buku ini aja ya.
Saya baca buku kayak baca dongeng. Gak masuk akal maksudnya, hehehe. Karakter tokohnya gak realistis dan kalimat dialognya panjang plus muter muter. Mau bilang raja bodoh karena belain anak kesayangan yang jelas-jelas penuh tipu muslihat aja, pake memuji bilang raja bijaksana. Orang ningrat kalo ngomong emang gitu kali ya?
Si Rama juga, katanya pintar bijaksana, kok bisa-bisanya masuk ke hutan untuk mencari kijang kncana berbulu permata permintaan sang istri itu. Padahal sebelumnya ia sudah bilang ke istrinya kalau hewan kayak gitu gak mungkin ada. Ini yang o'on si suami apa istrinya ya? Owh, atau mungkin sang suami emang penuh cinta gitu? Atau istrinya sedang ngidam sehingga minta yang mboten mboten mawon? Hahaha. Sita akhirnya diculik oleh Rahwana, untuk dijadikan istri muda.
Cerita versi buku ini rasanya terlalu singkat. Jadi penggambaran karakternya terasa instan. Mana bisa pembaca percaya karakter Rama yang titisan dewa itu, atau Sita yang cantik jelita, atau Rahwana yang belagu dan haus kekuasaan, just because the lines said so. Kan harusnya keliatan dari rangkaian peristiwa yang terjadi. Mungkin karena ini versi singkatnya ya. Epos aslinya konon berjilid-jilid.
Anyway, saya gak setuju dengan review di belakang yang bilang buku ini pantas jadi bacaan di sekolah. Bukunya ya yang saya rasa gak cocok. Terlalu singkat dan berasa pengen cepat beres aja. Serupa dengan buku bimbel untuk lulus UMPTN. Kalo ceritanya sendiri, mungkin cocok-cocok aja.
Mahabarata nya di edisi berikutnya ya.
Gambar nyolong dari Kutukutubuku.

0 comments:
Post a Comment