Thursday, 27 March 2008

Aisyah, the True Beauty


Agak ajaib mungkin kalo saya bilang awalnya saya kurang berminat membaca Khadijah, the True Love story of Muhammad atau Aisyah, the True Beauty. Padahal buku ini sedang jadi idola wanita-wanita di sekitar saya. Buku Aisyah ini jatuh ke tangan saya sebagai hadiah ulang tahun dari seorang teman.

Awalnya saya kira buku ini akan menggambarkan sosok wanita ideal yang jauuhhh sekali dari kesanggupan saya mencontoh. Namun ternyata tidak perlu berkecil hati, jika memang kita berniat memperbaiki diri, banyak fragmen-fragmen ksah yang bisa kita contoh.

Aisyah RA yang dinikahi Rasulullah di usia belia disebut sebut sebagai istri nabi yang paling dekat dengannya. Aisyah juga meriwayatkan hadits jauh lebih banyak dibanding istri-istri nabi lainnya. Aisyah adalah sosok wanita cerdas. Berayahkan Abu Bakar Asshidiq dan bersuamikan Rasulullah membuat dirinya berbekal ilmu keislaman yang kuat. Ia juga dikenal dermawan, makanan yang ia miliki seringkali habis disumbangkannya kepada orang yang membutuhkan. Ia dan Rasul pun akan berpuasa ketika persediaan makanan mereka habis.

Aisyah juga manusia biasa yang punya kekurangan. Rasa manja dan cemburunya sering ia ungkapkan kepada sang suami. Ia pun diceritakan kurang pandai memasak.

Informasi mengenai kekurangan Aisyah ini tidak mengurangi kekaguman saya padanya. Justru membuat sosok nya membumi dan realistis.

Buku ini bagus, YA. Buku ini bermanfaat, YA. Kekurangannya justru ada pada pengulangan suatu fakta di beberapa bab berbeda. Misal, tentang sifat manja dan cemburu Aisyah yang diulang beberapa bab. Jika maksudnya untuk menegaskan, saya akan mencoba memaklumi. Namun yang saya lihat justru fakta ini diungkapkan dalam konteks dan bahasa yang sama persis, maka saya jadi mengira sang penulis kekurangan bahan informai.

All in all, worthed lah. Buktinya saya jadi penasaran ingin tahu isi buku Khadijah.

*upload gambar menyusul*

-----
Update
Gambar di ambil semena-mena dan belum dapat izin, dari sini

Wednesday, 26 March 2008

Pudarnya Pesona Cleopatra


Setelah karya fenomenalnya Ayat-ayat Cinta, saya memang tergerak membaca tulisan Kang Habib lainnya. Ketika Cinta Bertasbih 1&2 sudah selesai dilahap. Pudarnya Pesona Cleopatra menjadi sasaran berikutnya.

Ternyata buku ini berisi 2 novel mini. Pudarnya Pesona Cleopatra menjadi novel yang pertama menceritakan upaya tak kenal lelah Raihana menghapus angan-angan Cleopatra yang memenuhi khayal sang suami. Raihana yang cantik, shalehah, sabar dan tidak menuntut ternyata tidak berhasil merebut cinta dari suaminya. Sang suami ternyata mendamba sosok Cleopatra sang wanita mesir dalam angan-angan istri idealnya. Cukup aneh, karena sang suami tidak pernah ke Mesir. Ceritanya berakhir menyedihkan (ups...maaf spoiler). Novel mini kedua, Setetes Embun Cinta Niyala berkisah tentang bimbang hati Niyala antara memenuhi cita-cita pribadi atau meringankan beban ayahanda tercinta. Problem yang disetting adalah problem klasik. Dijodohkan oleh orang tua dengan latar belakang balas budi. Kisah Niyala berakhir dengan manis. Sedikit agak mudah ditebak sih di pertengahan.

Saya yang terbiasa membaca novel tidak mini tentu berkerut keningnya. Life is too simple kalo dilihat dari novel ini.

*upload gambar menyusul*

----
Update
Gambar diambil semena-mena dan tanpa izin dari Dunia buku