Friday, 22 February 2008

Army of Roses


Kisah tentang para pelaku bom bunuh diri wanita. Hm...cukup menarik. Karena saya sama sekali belum pernah membayangkan apa yang ada di pikiran para pelaku bom bunuh diri itu, apalagi yang wanita.

Menelusuri halaman demi halaman buku ini, saya sempat kecewa. Saya membayangkan akan membaca kisah hidup para wanita pelaku bom bunuh diri. Biografi singkat yang menggambarkan bagaimana akhirnya mereka memutuskan untuk membawa bom bunuh diri itu.

Dengan maksud baik, penulis menyertakan juga keadaan politik dan sudut pandang para politikus dalam konflik Palestina-Israel. Dasar saya yang gak ngerti (dan gak minat) politik. Kepala saya jadi pening membacanya.

Tapi didalamnya memang ada juga kisah para syahidah ini. Keadaan negara mereka yang serba terbatas, konflik tak berkesudahan, keadaan keamanan yang tidak bisa diprediksi (penangkapan dan pembunuhan atas anggota keluarga sering terjadi) membuat mereka menganggap mati sahid dan masuk surga adalah opsi yang paling menyenangkan. Ajaibnya, hampir semua menyatakan bahwa setelah meledakkan bom bunuh diri, mereka tidak akan MATI. Mereka akan MENUJU SURGA. Bayangkan, ketika kebebasan sudah tidak ditangan, keamanan juga tiada bisa digenggam, apa yang lebih menarik daripada MASUK SURGA.

Sungguh, di mata mereka, hanya ada satu golongan yang menjadi sasaran. ORANG ISRAEL. Tidak perduli itu anak muda, orang tua, wanita, bagi mereka seluruh bangsa Israel adalah pihak yang bertanggungjawab atas nasib buruk mereka selama ini.

Bagaimana mereka tega membunuh wanita tak berdosa? Politikus dan tentara kan isinya lelaki. Mungkin begitu pikir anda.

Tapi para syahidah ini melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana saudara mereka diculik atau terbunuh oleh orang Israel. Semua orang Israel tidak ada bedanya, mungkin demikian pikir mereka.


Gambar dicuri dari bukukita

Girls of Riyadh


Tergoda oleh postingan Ollie, saya akhirnya menenteng buku ini ke rumah. Seperti apa sih cerita tentang gadis-gadis Arab yang menghebohkan di negerinya itu.

Jadi buku ini adalah kumpulan email yang dikirimkan Rajaa Alsanea (sang penulis) lewat milis setiap hari Jumat. Rajaa menceritakan potongan-potongan kisah 4 gadis Arab, Lumeis, Michelle, Shedim, dan Qamrah. Usia mereka sekitar 20tahunan. Masing-masing punya karakteristik berbeda dan kisah berbeda dalam proses pencarian cinta.

Budaya dan kebiasaan yang mengental di Arab menjadi latar belakang penceritaan. Bagaimana umumnya proses pernikahan hanya diawali oleh lamaran dari pihak pria. Sang wanita jarang punya kesempatan untuk mengenal calon suaminya. Bagaimana keluarga memegang peran penting untuk memutuskan nasib seorang wanita.

Overall, saya tidak terlalu excited dengan buku ini. Mungkin karena saya sudah membaca Trilogi Princess kemaren, jadi sudah tidak terkaget kaget lagi dengan setting buku ini. Dan juga, saya tidak terlalu "tersentuh" dengan potongan puisi atau kutipan lainnya yang sering diletakkan sebagai pembuka setiap email.

Perlu dibaca? Hm... gak terlalu recomended sih. Tapi up to you lahhh... :)

Gambar dicolong dengan susah payah karena internet yang lemot dan tentu saja tanpa izin dari kutukutubuku