Friday, 25 January 2008

Ketika Cinta Bertasbih 2


Setelah "digantung" oleh kang Habib dalam ending Ketika Cinta Bertasbih 1, buku ini tentu ditunggu-tunggu pembaca yang ingin mengetahui akhir kisah Azzam.

Anna Althafunnisa akhirnya pulang ke Indonesia untuk menyusun tesisnya. Tidak lama berselang, Azzam pun tiba di Indonesia. Kedua orang yang sempat disebut di buku pertama ini melanjutkan hidupnya masing-masing di tanah air.

Anna menerima lamaran Furqan. Pernikahan pun disipakna. Furqan masih menyembunyikan fakta bahwa ia terinfeksi virus HIV dari semua orang, bahkan Anna.

Azzam membuka usaha bakso di kampungnya. Usahanya berjalan lanca. Komunikasi Azzam dan Anna terbangun melalui Husna, adik Azzam yang diundang untuk bedah buku yang ditulisnya di pesantren milik ayah Anna.

Tiba juga waktunya untuk Azzam menemukan jodohnya. Meski Azzam pernah kuliah di Mesir dan memiliki usaha bakso yang berhasil di tanah air, jodoh ternyata merupakan perjuangan yang harus dilalui Azzam. Padahal syarat yang diajukan Azzam hanya satu, calonnya harus disetujui oleh Ibunda tercinta, Bu Nafis. Rina, Mila, Afifatul Qanaah, Eva, Seila, tidak ada yang mendapat restu. Dengan Vivi lah akhirnya Bu Nafis memberi restu. Persiapan pernikahan pun diadakan. Disaat yang sama Husna pun menyiapkan pernikahannya dengan Ilyas.

Skenario indah yang tampak di pelupuk mata harus berantakan karena musibah yang dialami keluarga Azzam. Akhir kisah Azza, Anna, Furqan, Husna, Eliana, dll tentu akan lebih seru kalo dibaca sendiri.

Untuk novel ini, saya cukup merasa ngos-ngosan membacanya. Perjalanan hidup yang berliku harus dilalui tokohnya. Banyaknya tokoh yang mengambil peran, juga cukup membuat kening berkerut.

Seperti Ayat-Ayat Cinta, novel ini juga padat dengan kajian-kajian Islami. All in all... padat menghibur.
Puas ? Tentu
Saya sudah lupa harga buku ini. Yang saya ingat hanya diskonnya yang 30% di Indonesian Book Fair.

Gambar dicuri dari situsnya bukukita

*maap, review Ketika Cinta Bertasbih 1 nya malah belum dibuat. Harus baca ulang dulu*

Thursday, 10 January 2008

No Excuses



Suatu hari di akhir pekan, saya menonton salah satu episode The Oprah Winfrey Show di Metro TV. Bintang tamunya adalah Kyle Maynard. PEmuda 20 tahunan yang memiliki kelainan sejak lahir sehingga tangannya hanya sampai lengan dan kakinya hanya tumbuh sampai paha.

Kalau di jakarta, orang seperti Kyle mungkin akan kita temui di jalanan, ditarik dengan gerobak mini, memohon belas kasih. Tapi Kyle tidak demikian. Ia bisa sekolah di sekolah normal, bermain football, menjadi juara gulat, dan kuliah di Unversity of Georgia. Rahasianya? No Excuses, ujar Kyle singkat.

Saya langsung mengidamkan buku yang disebut di acara ini. Sayangnya, buku ini tidak saya temui di QB, Aksara, Periplus, maupun Gramedia. Berkat bantuan kutukutubuku, akhirnya di bulan Oktober, buku ini pun menjadi milik saya.

Seperti yang saya duga, lewat cerita Kyle di bku ini, saya berulangkali merasa tersindir. Bagaimana tidak, saya yang dianugerahkan Allah ubuh yang sehat dan lengkap selalu berhasil menemukan 1001 alasan mengapa saya tidak mampu melakukan suatu hal. Sementara untuk Kyle, rumusnya hanya satu: NO EXCUSES. "I believe that anyone can conquer any obstacle, if they truly want it more than anything else; if they are ardent in their work; and if they refuse to be stopped by any barrier." Hahaha, kesindir.com nih saya. Mungkin yang lalu-lalu saya sekedar "pengen" aja, belum bersedia memberikan segala upaya yang saya bisa lakukan untuk mewujudkannya.

Dan simak quote dari Kyle lainnya: "Excuses are simply the way to avoid an obstacle without giving any effort to conquer it. Excuses gives us a reason to explain to other people why we are too weak to deal with a particular problem, regardless of the size or importance of the matter".

Recommended banget nih.
Kalau Kyle bisa, kita semua juga pasti bisa kan?!

Gambar nyolong dari Amazon

Wednesday, 2 January 2008

Sang Pemimpi


Setelah awalnya agak malas-malan melanjutkan bacaan tetralogi ini pasca terpingkal-pingkal sekaligus haru membaca Laskar Pelangi, takdir (tsah!!) membawa sang pemimpi ini ke tangan saya.

All in all, lucunya lebih lucu dari Laskar Pelangi. Haru nya jauuuh lebih seru dari Laskar Pelangi. Tokoh sentral dalam episode sang Pemimpi masih si Ikal (yang merupakan representasi Andrea Hirata, sang penulis). Kali ini Ikal didampingi oleh Arai, sang sepupu jauh yang kemudian menjadi saudara angkatnya, dan Jimbron.

Menarik sekali kakater 2 pendamping Ikal ini. Arai yang yatim piatu digambarkan dapat menyembunyikan kepiluan hatinya saat ayah Ikal menjemput dan mengajaknya tinggal bersama keluarga Ikal. Arai ini cerdik (atau licik, tergantung bagaimana anda memandangnya), berkharisma, determinasinya tinggi, yang mampu membuat Ikal mengikuti idenya bahkan dengan informasi yang minim. Sementara Jimbron, juga yatim piatu, yang akhirnya dibesarkan seorang pendeta yang tak pernah alpa mengantarnya ke masjid untuk belajarmengaji. Jimbron memiliki kecintaan berlebihan pada kuda. Tak lepas-lepasnya ia membicarakan kuda.

Banyak tawa di buku ini. Carilah cerita trio ini ketika mereka memandang poster film terbaru yang akan dimainkan di bisokop kampung. Bagaimana gambar sang wanita dalam poster seakan memanggil-manggil mereka untuk datang dan menonton film nya. Ada juga perkelahian Arai-Ikal di toko A Siong yang ditimpali dengan kicau Mei Mei, anak A Siong, "Saudala-saudala, datanglah belamai lamai!! Inilah peltandingan antala pendekal keliting melawan...." Mei Mei terdiam menatap Arai. Kami juga terdiam, serentak menoleh padanya, putri kecil itu mengamati Arai lalu ia berteriak ngeri, "Dlakulaaaaaaa...".

Saya ngakak guling-guling *hiperbola*

Banyak juga haru disini. Simak cerita Ikal tentang rangkaian persiapan yang dilakukan ayahnya 2 hari menjelang saat pengambilan raport anaknya. Atau Jimbron yang memesan 2 celengan kuda pada mualim kapal yang bertolak ke Jakarta. Ia mengisi kedua celengan itu dengan sama rata. Dan di kemudian hari memberikannya pada Arai dan Ikal menjelang keberangkatan duo ini ke tanah Jawa. "Ambillah, biarlah hidupku berarti. Jika dapat kuberikan lebih dari celengan itu, akan keuberikan pada kalian. Merantaulah. Jika kalian sampai ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika, itu artinya aku juga sampai kesana, pergi bersama dengan kalian".

Benar-benar persahabatan yang indah.

Dengan indonesian book fair, buku ini saya dapat gratis. Errr si pacar sih yang bayarin, hehehe. Dapat diskon 20%, jadi bayarnya Rp 32.000,-

Gambar dari Klub Sastra Bentang

Situs penulis ada disini