
Setelah "digantung" oleh kang Habib dalam ending Ketika Cinta Bertasbih 1, buku ini tentu ditunggu-tunggu pembaca yang ingin mengetahui akhir kisah Azzam.
Anna Althafunnisa akhirnya pulang ke Indonesia untuk menyusun tesisnya. Tidak lama berselang, Azzam pun tiba di Indonesia. Kedua orang yang sempat disebut di buku pertama ini melanjutkan hidupnya masing-masing di tanah air.
Anna menerima lamaran Furqan. Pernikahan pun disipakna. Furqan masih menyembunyikan fakta bahwa ia terinfeksi virus HIV dari semua orang, bahkan Anna.
Azzam membuka usaha bakso di kampungnya. Usahanya berjalan lanca. Komunikasi Azzam dan Anna terbangun melalui Husna, adik Azzam yang diundang untuk bedah buku yang ditulisnya di pesantren milik ayah Anna.
Tiba juga waktunya untuk Azzam menemukan jodohnya. Meski Azzam pernah kuliah di Mesir dan memiliki usaha bakso yang berhasil di tanah air, jodoh ternyata merupakan perjuangan yang harus dilalui Azzam. Padahal syarat yang diajukan Azzam hanya satu, calonnya harus disetujui oleh Ibunda tercinta, Bu Nafis. Rina, Mila, Afifatul Qanaah, Eva, Seila, tidak ada yang mendapat restu. Dengan Vivi lah akhirnya Bu Nafis memberi restu. Persiapan pernikahan pun diadakan. Disaat yang sama Husna pun menyiapkan pernikahannya dengan Ilyas.
Skenario indah yang tampak di pelupuk mata harus berantakan karena musibah yang dialami keluarga Azzam. Akhir kisah Azza, Anna, Furqan, Husna, Eliana, dll tentu akan lebih seru kalo dibaca sendiri.
Untuk novel ini, saya cukup merasa ngos-ngosan membacanya. Perjalanan hidup yang berliku harus dilalui tokohnya. Banyaknya tokoh yang mengambil peran, juga cukup membuat kening berkerut.
Seperti Ayat-Ayat Cinta, novel ini juga padat dengan kajian-kajian Islami. All in all... padat menghibur.
Puas ? Tentu
Saya sudah lupa harga buku ini. Yang saya ingat hanya diskonnya yang 30% di Indonesian Book Fair.
Gambar dicuri dari situsnya bukukita
*maap, review Ketika Cinta Bertasbih 1 nya malah belum dibuat. Harus baca ulang dulu*

0 comments:
Post a Comment