Friday, 30 November 2007

Shopaholic and Sister

Si Gila Belanja Punya Kakak adalah judul versi Indonesianya. Saya beli bukunya di Indonesian Bookfair. Harga nya yang Rp 45.000,- didiskon 15% sehingga saya bayar Rp 36.000,- saja.

Tak seperti 3 seri Shopaholic lainnya yang sudah saya baca, seri kali ini terasa membosankan. saya bertahan membacanya sampai habis hanya karena ingin tahu bagaimana endingnya.

Babak-babak awal masih seru. Becky dan Luke berbulan madu keliling dunia. Mereka mengunjungi berbagai negara, termasuk Indonesia! Dalam bulan madu panjangnya yang sudah berjalan selama 10 bulan ini, newlywed ini tidak sekalipun kembali ke London. Perjalanan keliling dunia ini juga berhasil merubah Luke yang awalnya tidak bisa berhenti memikirkan pekerjaannya, menjadi pribadi yang relaks. Becky? teteup... belanja kanan kiri (sebagian besar tanpa sepengetahuan Luke). Ia aman karena semua belanjaannya secara sembunyi-sembunyi langsung dikirimkan ke apartemen mereka di London.

Kembali ke London, Becky mendapat kejutan. Suze (sahabat baiknya) sudah punya sahabat baru, Becky ternyata punya kakak tiri perempuan, Luke kembali sibuk dengan pekerjaannya, Becky belum mendapat pekerjaan baru, dan... kiriman belanjannya yang tiba di London ternyata mencapai..... 2 kontainer. Ini tentu menambah masalah Becky.

Di London, cerita terus berkutat dengan upaya Becky mendekatkan diri dengan Jess, sang kakak tiri. Becky mendamba punya kakak yang bisa memiliki hobi yang sama (belanja tentunya) terkejut mendapati sang kakak justru pelit bukan main. Namun Becky toh tidak patah arang. Setelah menerima kenyataan bahwa mereka memang berbeda, Becky masih mendatangi kota tempat tinggal sang kakakuntuk belajar darinya dan mengenalnya lebih dekat. Meski awalnya sulit, namun bukan Becky Brandon (dahulu Bloomwood) namanya kalau tidak bisa melunakkan hati orang-orang disekitarnya.

Endingnya...? Ya heppi dong. As always...

Gambar nyolong dari Fantastic Fiction

Tuesday, 27 November 2007

Shopaholic Goes Abroad

Si Gila Belanja Merambah Manhattan.

Di buku sebelumnya, Becky akhirnya jadian dengan Luke Brandon, sang pengusaha muda tampan pemilik perusahaan PR sukses di London. Hubungan Becky dan Luke yang berjalan lancar membawa kejutan untuk Becky ketika ia mendengar rencana Luke untuk pindah ke New York. Luke berencana membuka kantor baru di New York. Becky yang sempat ragu karena memikirkan acara TV-nya yang baru saja dimulai -dan mendapat respon positif- akhirnya mengiyakan ajakan Luke untuk pindah ke New York.

Di New York, Becky bagai berada di surga. Merek-merek terkenal yang sudah dikenalinya di London, dapat ditemui dengan mudahnya di New York, di display toko yang yang lebih memanjakan mata Becky, si Gila Belanja.

Seperti diduga, Becky belanja hingga lupa diri. Manajer bank nya di London menegurnya karena Becky tidak segera melunasi hutangnya, Luke bgitu sibuk bekerja hingga nyaris tidak punya waktu untuk Becky, dan untuk membuat keadaan semakin buruk, ternyata ada seorang wartawan yang memuat berita tentang Becky.

Dunia Becky runtuh. Luke marah, pekerjaan baru di New York lepas begitu saja, hubungannya dengan Luke memburuk. Tapi bukan Becky Bloomwood namanya kalau ia tidak bisa menemukan jalan untuk membereskan masalah keuangannya. Dibantu Suze, sahabat baik sekaligus teman seapartemannya di London, Becky berusaha keluar dari masalah uang yang menderanya (lagi). Bagaimana caranya? Silahkan baca bukunya.

Seri ke 2 Shopaholic yang saya punya ini dalam bahasa Indonesia. Terasa berbeda memang dengan membaca versi aslinya. Tapi overall, masih cukup menghibur. Karakter Becky ini benar-benar jenaka. Menghibur.

Gambar nyolong dari Kutubuku (Maap males nyari yang lebih gede gambarnya)

Tuesday, 20 November 2007

iCon: Steve Jobs

Judul lengkapnya adalah iCon: Steve Jobs
The Greatest Second Act in the History of Business
(Jeffrey S. Young & William L. Simon)

Thanks to si pacar yang berkoar-koar tentang Steve Jobs dengan Apple nya, dan pidato Steve Jobs di Stanford yang saya temukan tempo hari, saya jadi semangat pengen tau cerita tentang Mr. Jobs ini. Dasar saya memang suka baca semibiografi atau buku yang true-story based, tak pikir panjang, saya minta Kutukutubuku memesankannya di Amazon.

Penulis berusaha merangkai selengkap mungkin kisah hidup Steve Jobs sejak kecil hingga comebacknya ke Apple yang fenomenal. Steve Jobs memang tidak bisa dijadikan secara personal tapi, langkah bisnis dan strateginya membuat saya tercengang-cengang. Ia mendirikan Apple bersama dengan Steve Wozniak. Dari awal Apple memang diproyeksikan sebagai produk pilihan yang fitur-fitur yang belum dimiliki PC yang ada saat itu. Branding dan segmentasinya yang spesifik memang terbukti mampu membangun jaringan pengguna yang lokal.

Berusaha keras membangun Apple, Steve Jobs justru mendapati dirinya didepak dari Apple, perusahaan yang dibangunnya dari nol. Itu terjadi tahun 1985.Meski masih menjadi pemegang saham terbesar, namun Jobs bisa dikatakan kehilangan bagian paling berharga dari hidupnya, keterlibatan langsung dalam mengembangkan produk-produk Apple.

Merasa dirinya masih muda dan tak mau menghabiskan hidupnya untuk menyesali diri, Jobs mendirikan NeXT. Masih berkutat di bidang yang ia cintai, software dan hardware. Produk-produk NeXT nyata memiliki sentuhan khas Jobs, revolusioner (meski belum tentu diterima dengan hidup oleh konsumen). Steve juga mendirikan Pixar, perusahaan pembuat film animasi yang, dengan kerjasamanya dengan Disney, menghasilkan rangkaian film box office berturut-berturut, Toy Story, Monster Inc, A Bugs Life, dan Finding Nemo.

Second act nya di Apple adalah bagian paling fenomenal menurut saya. Bagaimana Steve Jobs menciptakan iPod dengam iTunes nya yang diakui mengubah dunia multimedia. Simak salah satu judul bab di buku ini, "iPod, iTunes, Therefore I Am" cukuplah membuat saya tidak sabar ingin segera melalap habis isis buku ini.

Selesai membaca, saya jadi bertanya-tanya, adakah Stee Jobs-Steve Jobs Indonesia, yang revolusioner, tidak mudah patah dalam kegagalan, dan punya karakter kuat yang sehingga bisa membuat orang yang membencinya juga kagum kepadanya. Ah...berkhayal...

Buku ini berbandrol harga $16.47 di Amazon, dan sampai ke tangan saya dengan bantuan Kutubuku dengan harga Rp 298.650 (sudah termasuk fee dan ongkos kirim gratis untuk Jakarta), kalo hanya 1 buku saja. Tapi berhubung kemarin itu saya pesen sekaligus, harga each nya jadi sedikiiiit lebih murah dari itu.

Gambar nyolong dari Amazon

Friday, 16 November 2007

Simple Lie


Menemukan buku ini ketika mengitari Gramedia. Sampulnya menarik, catchy gitu, saya naksir. Melongok isinya dan berasa sedikit klik karena kisahnya mirip pengpri (baca : pengalaman pribadi).

Ceritanya tentang Rere, anak Teknik Sipil UI *sama tekniknya yah ama saya* yang dibingungkan oleh kehadiran seorang cowok asal, selengean, nyebelin, tapi somehow bisa menarik hati si Rere. Padahal Rere ini sudah punya pacar yang ganteng, pinter, sabar, baik hati, dan sayang setengah mampus ama Rere. Biasalah wanita, bingung deh jadinya milih yang mana. Jangankan Rere, saya aja yang baca sudah agak naksir ama si cowok asal ini. Hihihi. Siapa yang akhirnya dipilih Rere? ya...bisa ditebaklah. Memang endingnya "agak" tidak terduga. Saya bilang agak karena somehow sebenernya saya uda menduga arahnya kemana. Mungkin detailnya yang saya tidak duga.

Di awal baca buku ini, saya merasa simpati ama si Rere. Pasti ga enak hidup dengan kebingungan seperti ini *aih...pengpri gini*. Musti milih antara dua pria. Eh...makin keujung jadi ga simpati lah saya. Kenapa? Ya baca saja sendiri ya.

.nb buat yang uda baca,
Menurut saya ada yang mengganjal nih. Kalo memang semuanya terencana, lalu mengapa si Rere digambarkan bersedih dan berbingung ria ya? Harusnya kan..... (isi sendiri kalo uda baca)

Buku saya beli di Gramedia, lupa harganya. Kalo di Gagas Media sih Rp 34.000,-

Gambar nyolong dari Gagas Media.