Monday, 8 February 2010

Anak Semua Bangsa

Buku kedua dari tetralogi Pramudya.

Minke dan Nyai Ontosoroh berusaha bertahan hidup setelah terpaksa melepas pergi Annelies ke Belanda. Kabar Annelies hanya diperoleh dari rangkaian surat Panji Darman. Dan berita harus ditutup dengan kabar duka. Akhirnya Annelies menutup mata di Belanda.

Kenapa Annelies ini kayak gak ada fighting spiritnya ya? Sebagai anak dari sosok berkarakter kuat seperti Nyai Ontosoroh, masak dia tidak sedikitpun 'mewarisi' daya juang ibunya?

Setelah menduda, maka nyaris tidak ada kisah cinta-cintaan lagi dalam buku ini.

Nyai Ontosoroh berusaha (tampak) tegar menghadapi kehilangannya. Tak saja ia kehilangan perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah. Ia pun harus kehilangan putri bungsunya.

Sementara Minke, masih rajin menulis. Namun temannya mengingatkan, buat apa menulis dalam bahasa Belanda saja? Bangsa kita sendiri perlu mendapat akses pada tulisan-tulisan Minke. Bangsa sendiri masih kekurangan informasi. Minke pun akhirnya mulai menulis dengan bahasa bangsanya sendiri.

Selanjutnya, buku ini lebih banyak berisi mengenai perjuangan supaya pribumi bisa mendapat informasi yang sama banyaknya dengan indo. Agar mereka mendapat perlakuan yang tidak jauh berbeda dengan indo (kalau mengharap perlakuan sama, agak kurang realistis kali ya).

Saya terus terang agak bosan juga bacanya. Hehehe.

Tapi endingnya bagus. Ketika Nyai Ontosoroh memberikan 'perlawanan' terakhirnya kepada anak sang suami yang datang untuk mengambil perusahaannya.

Gambar dari sini.

Sunday, 10 January 2010

New Moon (Dua Cinta)

Ah ngakunya gak demen Twilight, tapi kok bukunya dibeli juga. Gimana ya....penasaran sih. Maksudnya, penasaran apakah bukunya memang se-sitentron fimnya hihihi.

*sebentar, buku yang pertama uda dipost disini belum ya?*

Saya sadar, setelah saya memutuskan membeli buku ini, saya sudah harus ikhlas menerima bahwa ada gadis muda jatuh cinta pada vampir *kayak uda gak ada orang normal aja*. Itu, sudah saya terima. Tapi lalu kemudian si vampir memutuskan si gadis dan pergi meninggalkannya begitu saja. Membuat si gadis melamum hidup segan mati tak mau selama berbulan-bulan. Ck ck ck. Ternyata vampir juga bisa dodol kalo urusan cinta-cintaan ya.

Bella menyadari bahwa bayangan Edward akan muncul setiap kali ia akan melakukan hal-hal berbahaya. Jadilah ia mencoba-coba melakukan kegiatan berbahaya demi mendapatkan siluet kekasih hati yang dirindukannya itu *bujettt bahasa gue*. Bella membeli motor bekas dan meminta Jacob, teman kecil nya untuk memperbaiki. Ternyata bersama Jacob, Bella sesaat melupakan luka hatinya. Dia bisa tertawa lagi. Bisa semangat menunggu hari esok.

Jacob pun, yang sudah jelas sejak dulu, menyimpan hati pada Bella. Tapi Jacob juga tahu bahwa Bella cinta berat dengan Edward. Yang bisa Jacob tawarkan adalah janji, bahwa ia takkan pernah menyakiti hati Bella. Bella jadi bingung sendiri.

Dan ternyata Jacob adalah werewolf.

Dan werewolf adalah musuh abadi vampir.

Dan Jacob tak yakin dia akan mampu mengendalikan dirinya (ketika jadi serigala) saat di dekat Bella. Ia khawatir akan menyakiti Bella. Dan drama kedua dalam hidup Bella pun dimulai. Jacob menjauhi Bella. Oh Bella..malangnya nasibmu.

Jadi Bella sendirian? Bukannya dia bingung memilih Jacob atau Edward?

Oh.. tenang aja, nanti kan ada bagian dimana Edward memutuskan 'bunuh diri' ketika ia berfikir bahwa Bella sudah mati. Mau tau bagaimana cara vampir yang immortal bisa 'bunuh diri'? Baca bukunya.

Lho kok kayak Romeo & Juliet? Hehehe. Begitulah. Tapi yang ini happy ending kok

Anyway, kalo sabar baca bukunya sampai habis, maka kita akan lebih mudah menerima alur cerita mengapa Bella akhirnya jatuh hati pada Jacob. Walaupun plot nya juga masih standar sih. Jacob ini jadi kayak rebound nya Bella. Hayo sana cari tau apa itu rebound.

Gambar dari sini.

Sunday, 27 December 2009

Bumi Manusia

Menyenangkan juga sesekali membaca buku berbahasa indonesia asli. Selama ini mayoritas bacaan saya berupa bahasa inggris, bahasa indonesia hasil terjemahan dari bahasa inggris, atau bahasa indonesia chicklit yang disana sini pake istilah bahasa inggris.

Menurut saya, Bumi manusia adalah kisah perjuangan kaum pribumi demi mendapatkan hak dan perlakuan yang sama seperti kaum indo belanda. Mengambil setting tempo doeloe, dengan kondisi dimana kaum indo belanda terkesan 'elite'. Perjuangan kaum pribumi disimbolkan melalui tokoh Nyai Ontosoroh, pribumi bernama namanya Sanikem, yang menjadi gundik Herman Mellema, indo belanda. Upaya Herman menjadikan Nyainya pintar disambut penuh semangat. Sang Nyai yang tidak pernah bersekolahpun kini fasih berbahasa belanda, bertutur layaknya seorang meofrow, dan berpengetahuan tak kalah dengan siswa HBS.

Perjuangan pribumi lainnya disimbolkan melalui tokoh Minke. Anak Bupati. Siswa HBS. Ia pandai menulis. Tulisannya muncul beberapa kali di surat kabar. Rasanya Minke ingin membuktikan bahwa pribumi tidak selalu lebih bodoh daripada indo belanda.

Annelies, sang gadis jelita, menyatukan perjalanan hidup Nyai Ontosoroh, sang ibunda, dengan Minke, sang belahan hati. Dan ceritapun bergulir.

Sana baca sendiri. Banyak review bagus buat buku ini.

Saya? Saya masih menyimpan beberapa pertanyaan tak terjawab bahkan setelah membaca buku ini dua kali:
  • Apa yang membuat Annelies jatuh cinta setengah mati sama Minke, apakah karena Minke berani mencium pipinya?
  • Kenapa fisik (dan jiwa) nya Annelies ringkih sekali? Rindu pada pujaan hati, sakit. Ditinggal pujaan hati ke luar kota, sakit. Ada kasus di pengadilan, sakit.
  • Kenapa Robert Mellema begitu membenci ibunya? Apa karena dia menyesal lahir dari ibu pribumi sehingga dia tidak bisa sepenuhnya jadi indo belanda?
Baiklah. Abis ini baca buku Pak Pram lainnya deh.

Gambar dari sini.

Thursday, 29 October 2009

Love the One You're With

Ellen yang newlywed (pengantin baru) bertemu dengan mantan pacarnya, Leo. Sekian tahun lalu, kisah cinta Ellen dan Leo berakhir tanpa a proper closure, menurut Ellen. Setelah berhasil melupakan Leo, dan akhirnya menikah dengan kakak dari sahabat baiknya, Margot, kok Ellen malah kena CLBK ginih.

Dibumbui dengan insiden suami Ellen yang mengajak transmigrasi ke Atlanta. Mereka awalnya tinggal di New York yang hingar bingar. Mungkin seperti dari Jakarta pindah ke Salatiga, hehehe. Kehadiran Leo terasa seperti permen manis yang disuguhkan ketika sajian sehari-hari hanya nasi dan tahu terus *permisalan semena-mena*.

Ellen pun mempertaruhkan pernikahannya demi mendapatkan 'cemilan' manis dari Leo.

Moral story nya: kadang kita lupa kenapa dan bagaimana kita mencintai seseorang. Baru ketika ada 'orang lain' datang diantaranya, kita jadi teringat kembali.

Jadi, apakah anda butuh kehadiran mantan pacar, untuk membuat anda teringat kembali mengapa anda mencintai pasangan anda saat ini? Saya sih enggak :p

Gambar nyolong dari sini.

Handle with Care


Buku Jodi Picoult yang kedua setelah My Sister's Keeper.


Tentang Willow, yang punya kelainan OI sehingga tulangnya mudah patah. Charlotte, ibu Willow melihat peluang untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi Willow, dengan cara menuntut dokter kandungannya dengan tuduhan malpraktik. Bukan karena membuat Willow memberita OI (karena ini adalah kelainan genetik yang tidak bisa dicegah), tapi karena tidak memberi tahu lebih awal tentang kelainan genetik ini. Pemberitahuan lebih awal memberi kesempatan bagi orang tua calon bayi untuk menentukan. Apakah mau meneruskan kehamilan? Atau mau mengakhiri kehamilan?

Terdengar biasa aja ya ceritanya?

Jadi penuh drama karena dokter kandungan Charlotte adalah sahabat karibnya, Piper. Mereka bahkan sudah bersahabat sebelum Charlotte mengandung Willow. So, lebih berat mana? Sahabat? Atau anak sendiri?

Seperti My Sister's Keeper, gaya penulisannya juga ganti-ganti subjek. Jadi kadang dari sudut pandang Charlotte. Kadang dari sudut pandang Piper. Kadang dari sudut pandang Sean (ayah Willow, suami Charlotte, dsb).

Menurut saya cerita dasarnya bagus. Dan Jodi Picoult ini kalimatnya indah-indah deh. Sayang saya lagi jauh ama buku fisiknya, jadi gak bisa mengutip kalimat-kalimatnya. Karena kebanyakan tokoh mungkin, jadi ada beberapa cerita yang kayaknya cuma nambal-nambalin aja. Seperti kisah bunuh diri adik ipar Piper. Atau pencarian orang tua kandung Marin, si pengacara Charlotte.

Tapi, gak menyesal deh beli ini.
Gambar diambil dari situs sang penulis, disini.

Thursday, 23 July 2009

Anne of Green Gables


Jujur ya, awalnya saya pikir Anne ini cerewet banget. Pokoknya mode mencela saya uda ON deh pas baca buku ini. Tapi karena akhirnya saya insyaf, jadilah postingan ini berisikan 'bagusnya' buku ini.

Buku ini bercerita tentang harapan. Anak yatim piatu yang 'salah kirim' pun bisa mengambil hati orang tua angkatnya. Iya. Anne adalah anak yatim piatu yang dikirimkan pada kakak adik Matthew dan Marilla. Mereka sebenarnya menginginkan anak laki-laki untuk membantu mengurusi lahan. Tapi karena 'kuasa illahi', malah Anne yang dikirim ke mereka. Anne pun mulai berkicau. Tentang rambutnya yang merah. Tentang 'keluarganya' terdahulu. Tentang kebun dan bunga di sekitar rumahnya. Kicauan Anne ini akhirnya mengambil hati Marilla. Matthew aja yang jarang ngomong dan jarang bergaul akhirnya mau bela-belain beliin baju baru untuk Anne. Dengan banyak gelembung. Seperti yang dimintanya.

Pertemanan karib Anne dengan Diana sempat diwarnai insiden 'anggur merah'. Insiden ini membuat orang tua Diana melarangnya bermain dengan Anne. Tapi lagi-lagi 'kuasa illahi' memberikan kesempatan bagi Anne untuk meraih hati orang tua Diana. Mereka bisa berteman kembali deh.

Bagian paling mengharukan adalah ketika Anne melepaskan cita-citanya berkuliah meski beasiswa sudah ditangannya. Ia memilih menemani Marilla di rumahnya. Ouch..so sweet. Saya aja jadi terharu.

Ayo ayo ayo.. yang mau baca bukunya.. Monggo...

Gambar diambil dari sini.

Problem Solving 101

Seperti saya bilang di multiply, buku ini saya beli karena saya menganggap diri saya cerdas. Halah. Tapi gak nyesel lho beli buku ini. Meski langkah-langkah yang diberikan gak ada yang 'fenomenal', tapi penjelasan sederhana sekali. Gak rumit. Harusnya sih semua orang bisa mengerti. Bisa mencoba.

Intinya, untuk menyelesaikan masalah (eh.. problem solving = penyelesaian masalah kan ya?!), pertama kita harus bisa mendefinisikan masalahnya. Bener ini. Mana bisa nyelesaiin masalah, kalo masalahnya apa, kita gak tau. Okay, langkah selanjutnya adalah membuat alternatif pilihan untuk menyelesaikan. Semua alternatif yang ada didata. Lalu, pilih mana yang menurut anda paling signifikan efeknya pada masalah. Pilih aja. Kita juga gak dituntut untuk melakukan seleksi dengan metode rumit nan canggih kok. Ya hanya menurut kita aja. Setelah dipilih, dilakukan. Dicoba. Hasilnya, dievaluasi. Apakah benar ini solusi paling tepat. Kalo iya, lanjutkan hingga masalahnya terselesaikan. Kalo bukan gimana? Ya namanya juga manusia, mungkin salah. Normal. Itu gunanya kita evaluasi. Kalau ternyata pilihan kita ternyata bukan yang paling tepat, ya pilih lagi. Mana yang menurut anda paling cepat. Coba lagi, evaluasi lagi. Ulangi prosesnya hingga masalah terselesaikan.

Sebenarnya menurut saya, ini gak beda jauh dengan asas PDCA kebanggaan anak TI itu. Plan - Do - Check - Act. Ah.. saya mau nyoba. Untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam hidup saya. Halah.

Gambar dari sini.