Buku kedua dari tetralogi Pramudya.Minke dan Nyai Ontosoroh berusaha bertahan hidup setelah terpaksa melepas pergi Annelies ke Belanda. Kabar Annelies hanya diperoleh dari rangkaian surat Panji Darman. Dan berita harus ditutup dengan kabar duka. Akhirnya Annelies menutup mata di Belanda.
Kenapa Annelies ini kayak gak ada fighting spiritnya ya? Sebagai anak dari sosok berkarakter kuat seperti Nyai Ontosoroh, masak dia tidak sedikitpun 'mewarisi' daya juang ibunya?
Setelah menduda, maka nyaris tidak ada kisah cinta-cintaan lagi dalam buku ini.
Nyai Ontosoroh berusaha (tampak) tegar menghadapi kehilangannya. Tak saja ia kehilangan perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah. Ia pun harus kehilangan putri bungsunya.
Sementara Minke, masih rajin menulis. Namun temannya mengingatkan, buat apa menulis dalam bahasa Belanda saja? Bangsa kita sendiri perlu mendapat akses pada tulisan-tulisan Minke. Bangsa sendiri masih kekurangan informasi. Minke pun akhirnya mulai menulis dengan bahasa bangsanya sendiri.
Selanjutnya, buku ini lebih banyak berisi mengenai perjuangan supaya pribumi bisa mendapat informasi yang sama banyaknya dengan indo. Agar mereka mendapat perlakuan yang tidak jauh berbeda dengan indo (kalau mengharap perlakuan sama, agak kurang realistis kali ya).
Saya terus terang agak bosan juga bacanya. Hehehe.
Tapi endingnya bagus. Ketika Nyai Ontosoroh memberikan 'perlawanan' terakhirnya kepada anak sang suami yang datang untuk mengambil perusahaannya.
Gambar dari sini.





