Thursday, 22 September 2011

Harry Potter and the Prisoner of Azkaban

Posted by Erma at 18:55 0 comments
Di buku ini, keluarga Dursley sudah mengetahui bahwa Harry tidak diperbolehkan menggunakan sihir di luar sekolah. Artinya, ketakutan mereka menjadi korban sihir Harry sudah tidak ada. Yang ada, mereka berusaha pura-pura gak ngerti dengan Harry, sekolah, dan komunitas sihirnya. Kedatangan salah seorang kerabat Dursley (bibi Marge) memaksa Harry menjaga sikap seakan anak baik namun disaat yang sama mengaku sekolah di rehabilitasi anak nakal. Keluarga Dursley yang anehhh. Harry naik pitam saat bibi Marge ini menghina dina orangtua Harry. Secara ajaib, bibi Marge menggelembung bak balon udara dan terbang.

Marah campur takut (ditangkap kementrian sihir lalu dimasukkan ke Azkaban, penjara sihir), Harry pergi dari rumah Dursley dan masuk kembali ke komunitas sihirnya. Disini ia mendapati heboh heboh tahanan Azkaban yang berhasil melarikan diri. Kelak ia tahu bahwa Sirius, sang buron, adalah sahabat baik ayah Harry, sekaligus orang yang dituduh membocorkan rahasia persembunyian yang menyebabkan ayah dan ibu Harry terbunuh.

Lewat petualangan khas Harry, Ron, dan Hermione, Sirius berhasil dipojokkan. Harry hampir menyerahkan Sirius pada Dementor, saat Sirius menyatakan dirinya tidak bersalah sambil membuka kedok sahabat ayah Harry lainnya. Sang penjahat ternyata selama bertahun-tahun bersembunyi sebagai ...... tikus. Iya, tikus.

Kutipan buku ini jatuh pada.... saat Harry menanyakan pada Dumbledore apakah ayahnya yang sudah meninggal bisa menghadirkan patronus untuk menolong dirinya. Dumbledore menjawab tegas, tidak ada sihir apapun yang bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Tidak puas, Harry keukeuh haqqul yaqqin merasa ia melihat ayahnya dari kejauhan. Dan Dumbledore pun berkata:

You think the dead we have loved ever truly leave us? You think that we don't recall them more clearly than ever in times of great trouble?

Ah...

Ini untuk (saya dan) kalian yang merindukan mereka yang telah pergi.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Wednesday, 21 September 2011

Harry Potter and the Chamber of Secret

Posted by Erma at 20:23 2 comments
Buku Harry Potter ini ternyata bisa dibaca terpisah loh. Bu Rowling rajin melengkapi dengan fakta-fakta singkat untuk kejadian di buku terdahulunya.

Selama liburannya dari Hogwarts, Harry menghitung hari tak sabar untuk kembali ke sekolah. Keluarga Dursley yang takut dengan kemampuan sihir jadi bersikap 'mendingan' pada Harry. Diberikannya satu kamar kosong untuk Harry (sebelumnya Harry tidur di lemari kecil di bawah tangga). Mereka tidak tahu bahwa siswa Hogwarts tidak diperbolehkan menggunakan sihir selama di luar sekolah.

Di tengah keheranan Harry akan Ron dan Hermione yang tidak kunjung membalas surat-suratnya, muncul Dobby, seorang house elf (errr.. apa ya bahasa Indonesianya, intinya house elf dimiliki oleh keluarga penyihir dan wajib mematuhi majikannya, tugasnya serabutan bak PRT, ia punya kekuatan sihir dengan mekanisme yang agak berbeda dengan penyihir). Dobby meminta Harry tidak kembali ke Hogwarts karena disana bahaya telah menunggunya. Upaya Dobby mencegah Harry dilakukan dengan membajak surat-surat Harry dan yang paling ekstrim adalah membuat keributan dengan sihirnya saat Paman Vernon sedang menjamu ramu penting di rumahnya dan membuatnya tampak seperti perbuatan Harry. Dobby juga membuat Harry dan Ron ketinggalan kereta kembali ke Hogwarts. Tapi dengan 'kenakalan' mereka, Harry dan Ron toh tetap bisa sampai ke Hogwarts.

Di Hogwarts kehebohan muncul saat kucing sang penjaga sekolah kena sihir hitam. Hantu Gryffindor jadi korban berikutnya. Hermione pun jadi korban. Dan puncaknya Ginny, bungsu Weasley yang baru masuk Hogwarts tahun ini kena sihir hitam.

Biang keroknya ternyata si Voldermort yang menggunakan media buku harian. Dalam buku kedua ini, Harry kembali berhasil mengalahkan Voldermort dengan memusnahkan buku harian itu. Namun layaknya kucing yang nyawanya lebih dari satu, Voldermort pun demikian. Nantikan kemunculan Voldermort di serial Harry Potter selanjutnya. Buahaahahahaha.

Buku ini saya baca cukup cepat (tapi review buat blognya cukup lama) sehingga tidak sempat kasih kutipan kata-kata menarik. Tapi tenang, di buku ketiga sempat nyatet kok.

Di posting tanpa gambar bukunya dulu ya. Daripada kelamaan di folder draft nanti bulukan haha.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Tuesday, 16 August 2011

Harry Potter and the Philospher's Stone

Posted by Erma at 06:29 2 comments
Dilatarbelakangi tamatnya film Harry Potter dan puasanya saya dari sesi beli buku baru, saya baca ulang buku Harry Potter yang pertama kali saya baca versi Indonesianya bertahun-tahun lalu. Kini saya baca versi Inggrisnya, yang juga sudah saya baca, lebih dari setahun lalu.

Harry yang mengira dunianya hanya akan berisi paman, bibi, dan sepupunya (semua gak puas-puas menganiaya Harry secara mental, fisik juga sih dikiiit), mendapati bahwa ada dunia baru yang lebih menarik. Dunia sihir. Dimana ia mendapatkan teman baik. Dimana dia belajar tentang sihir dari nol. Dimana dia merangkai kenangan tentang orangtua yang tak pernah dikenalnya (karena meninggal) saat ia baru berusia satu tahun). Dimana dia terkenal sebagai 'the boy who lived'.

Tapi ternyata, tak hanya di dunia manusia Harry berdekatan dengan orang-orang yang hobi membuatnya merana, di dunia sihir pun ada orang-orang yang bertekad membuatnya merana. Ada sesama murid yang gayanya tengil bener, ada profesor (guru di sekolah sihir dipanggil profesor) yang hobi menemukan kesalahannya dan menghukumnya.

Saya selalu terharu pada bagian-bagian dimana Harry memikirkan orangtuanya (ingat ya, pas baca ini saya kan uda khatam baca semua Harry Potter). Being an orphan, I understand that most of the times, all we ask is jut ONE MORE DAY WITH THEM. Just one more day.

Tahun pertamanya di sekolah sihir ternyata tidak hanya berisi pelajaran-pelajaran ajaib. Tapi ada pertandingan Quidditch(rebutan bola pake sapu terbang) dimana Harry jadi pemain kunci, ada cermin ajaib yang membuatnya bisa melihat orangtuanya, ada jubah ajaib yang membuatnya tak kasat mata, dan ada petualangan menyelamatkan batu ajaib yang bisa membuat pemiliknya hidup abadi.

Bagia favorit saua ada dua:
1. Jawaban Dumbledore ketika Harry menanyakan cara kerja cermin ajaib.
2. Alasan Dumbledore memberikan nilai pada Neville yang dishir sehingga terikat kakinya ketika berusaha mencegah HArry cs keluar asrama.

Ada yang masih inget apa kata Dumbledore pada dua bagian di atas?

Sebenernya dahulu kala pas pertama kali baca buku ini, saya belum menemukan keistimewaa buku ini. Mungkin karena dulu juga yang saya baca novel cinta-cintaan melulu. Bahkan buku ini saya baca semata-mata karena haus bacaan (gratis) aja. Baru setelah menamatkan buku ketujuh dan membaca ulang semua bukunya secara berurutan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, saya terpana dengan imajinasi bu Rowling dalam menciptakan cerita ini. Astaga dragon... sapa gak pecah itu kepala? Tujuh buku, banyak karakter, banyak kisah, hampir semuanya menarik. Saya aja kadang mau bikin postingan blog kelupaan ide awalnya apa.

Mari kita lanjut dengan Harry Potter berikutnya, setelah selingan Pride and Pejudice dan The Clien (John Grisham).

Sunday, 14 August 2011

The Five People You Meet in Heaven

Posted by Erma at 00:30 2 comments
Eddie, petugas maintenance sebuah taman hiburan menghabiskan sebagian besar hidupnya di taman hiburan. Meski sedari kecil kerap dibawa ke taman hiburan oleh ayahnya (yang juga bekerja sebagai petugas maintenance), ini bukanlah pekerjaan impiannya. Setelah pergi perang dan keudian dibebastugaskan karena luka di lutunya, Eddie berdiam diri di rumah tak mengerjakan apa-apa. Hingga ayagnya yang bertemperamen keras memaksanya untuk bekerja. Kejadian ini memang menggerakkan Eddie, ia akhirnya mencari dan mendapatkan pekerjaan. Tapi ini juga jadi pembicaraan terakhir Eddie dengan ayahnya. Setelah itu, sang ayah menolak berbicara dengannya lagi.

Ketika ayahnya meninggal, Eddie 'terpaksa' menjadi petugas maintenance taman hiburan juga demi menemani ibunya yang kini tinggal seorang diri. Tahun berlalu, dan Eddie tidak pernah berganti pekerjaan. Dalam hatinya, Eddie menyalahkan ayahnya yang dirasa menjadi penyebab ia 'terperangkap' dalam pekerjaan yang sama.

Suatu hari, kecelakaan sebuah wahana taman hiburan menewaskan Eddie. Dalam perjalanannya menuju alam baka, ia dibawa bertemu lima orang yang masing-masing mengajarkan sesuatu tentang kehidupan. Dan kematian.

Orang pertama mengajarkan bahwa setiap hal yang terjadi dalam kehidupan seseorang pasti ada hubungannya dengan kehidupan orang lain. Kesempatan hidup bagi satu orang bisa berarti kematian bagi orang lainnya.

Orang kedua mengajarkan bahwa sebagian besar yang didapatkan dalam kehidupan memerlukan pengiraban. Kesakitan, luka, atau bahkan kematian, bisa jadi adalah pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, atau yang lebih berarti.

Orang ketiga mengajarkan tentang maaf dan kebencian. Manusia seringkali menyimpan kebencian tanpa tahu keseluruhan cerita. Padahal rasa benci hanya menyaikiti pemilik rasa itu. Dan maaf adalah obat penawar terbaik untuk rasa benci.

Orang kelima mengajarkan bahwa yang dikira 'bukan apa-apa' bisa berarti hal yang sangat besar, sangat berarti bagi orang lain. Bahwa hidup Eddie yang disangkanya tak berguna karena tidak mencapai apapun, ternyata berarti besar bagi pengunjung taman hiburan.

Hayo, siapa yang sadar bahwa saya melewatkan orang keempat? Ini disengaja kok, karena saya juga bingung apa yang didapatkan Eddie dari orang keempat ini. Kecuali kesempatan untuk mengobati kehilangannya pada seseorang yang sangat dirindukannya.

Ayo baca bukunya dan beri tahu saya apa yang didapatkan Eddie dari orang keempat.

Tuesday, 9 August 2011

Gone with the Wind

Posted by Erma at 22:00 4 comments
Seorang teman pernah memberi spoiler novel ini dan mengatakan Scarlett O'Hara adala contoh wanita yang mengetahui bagaimana memaksimalkan kelebihan yang dimilikinya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi ia juga kadang dibuat menderita akibat pesonanya sendiri.

Sempat pengen nonton filmnya dulu karena ciut liat bukunya yang lebih tebal dari Al Qur'an. Tapi akhirnya nenteng juga buku setebal bantal itu dari Gramedia. Iya, saya emang agak kurang kuat iman untuk godaan buku.

Scarlett adalah gadis cantik bermata hijau, dipuja para pria, dimusuhi para wanita. Pesonanya mampu membuat pria-pria disekitarnya mengerubungi, meski pacar-pacar mereka ada di tempat yang sama. Jelas aja para wanita berasa pengen nyantet dia *eh gak ada santet juga kali ya disana*.

Pesona Scarlett berhasil memikat Charles yang meski punya pacar toh menikahi Scarlett setelah 'disenyumin dan dikedipin'. Charles tewas dalam perang kala Scarlett masih mengandung anak pertama mereka. Frank, suami kedua Scarlett juga melamarnya meski ia sebelumnya berjanji menikahi adik Scarlett. Kurang mempesona apa coba? Frank pula akhirnya tewas. Suami ketiga Scarlett, Rhett, adalah satu-satunya yang bukan hasil 'tipu daya' , meski demikian toh Scarlett mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini. Rumah megah, modal untuk memperbesar usahanya.

Tiga suami, padahal lelaki yang sungguh-sungguh diingikannya sejak mula adalah Ashley Hamilton. Lelaki ini menolaknya sejak awal karena merasa pernikahan dua orang dengan karkater yang bertolak belakang tidak akan berujung bahagia. Karenanya, Ashley memilih Melanie yang sifat-sifatnya adalah kebalikan Scarlett. Siapa nyana bahwa dikemudian hari Scarlett menghabiskan sebagain besar hidupnya di dekat Melanie yang dibencinya setengah mati (semata-mata karena Ashley memilihnya sebagai istri, dan bukan dirinya). Siapa nyana bahwa Scarlett yang membantu Melanie melahirkan anaknya. Siapa nyana, bahwa demi cinta yang masih disimpannya kepada Ashley, Scarlett bersedia memberikan tempat bernaung dan kemudian bahkan pekerjaan kepada Ashley dan keluarganya.

Dan siapa nyana, bahwa perasaannya kepada Ashley yang selama ini dikirinya sebagai cinta, ternyata bukan cinta *terus apa dong?*. Bahwa hatinya ternyata sudah jatuh cinta pada Rhett, yang kala itu sudah menjadi suaminya. Dan siapa nyana bahwa ketika akhirnya Scarlett menyadari perasaannya kepada Rhett, semua sudah terlambat. Rhett tidak mati seperti dua suami terdahulunya. Cintanya pada Scarlett yang sudah mati.

Jadi pengen ngasih lagu ini sebagai latar:
Tanpamu
Cinta tak berarti
Cinta sudah lewat

Siapa yang tahu judul lagunya?

Saturday, 23 July 2011

Sejuta Hati untuk Gus Dur

Posted by Erma at 21:10 0 comments
Apa jadinya buku yang ditulis hanya dalam beberapa hari?

Dipicu wafatnya Gus Dur, penulis yang sudah lama meniatkan untuk menulis biografinya, melakukan riset dan wawaancara dengan keluarganya.

Hasilnya, saya jadi tahu bahwa kakek dan ayah Gus Dur adalah tokoh besar Hasyim Asyhari dan Wahid Hasyim. Dan bahwa sejak usia muda, Gus Dur sudah gemar membaca buku-buku berat. Setidaknya, berat menurut saya. Kecintaannya pada pengetahuan tidak lantas membuatnya berprestasi bagus di sekolah, ia bahkan pernah nyaris tak naik kelas. Gak heran, karena GUs Dur mengabaikan topik-topik yang tidak menarik minatnya.

Gus Dur bertemu Sinta Nuriyah (yang dipanggilnya "Nur") juga ketika muda. Gak ada 'pacaran', mereka surat-suratan selama Gus Dur sekolah di luar Jombang.

Hus Dur ternyata sudah pernah merasakan dunia birokrat ketika ayahnya diangkat menjadi menteri.

Kecelakaan mobil yang dialaminya dalam perjalanan bersama ayah dan stafnya akhirnya merenggut nyawa ayahnya. Tragisnya, kecelakaan mbil juga lah yang bertahun-tahun kemudian melumpuhkan kaki Nur, sang istri.

Kayaknya cukup sekian dulu bocoran isi bukunya. Silahkan lanjut dibaca sendiri :)

Oprah, a biography by Kitty Kelley

Posted by Erma at 20:58 3 comments
Sebagai penonton televisi tak berbayar yang mendapati The Oprah Winfrey Show sebagai acara layak tonton, untuk beberapa waktu saya menahan diri tidak membeli buku ini ketika masih jadi hard cover. Saya ingin tahu apa komponen kehidupan Oprah selain child molested ketika kecil, berteman baik dengan Gayle King selama bertahun-tahun, dan in relationship dengan Stedman juga bertahun-tahun (namun menyatakan diri tidak akan menikah).

Mungkin karena Oprahnya sendiri menolak memberi kontribusi atau bahkan review pada buku ini, penulisnya harus mengandalkan hasil wawancara dengan orang-orang di sekitar Oprah (yang secara teknis susah dilakukan, karena sebagian bersar dari mereka sudah menandatangani perjanjian untuk tidak memberi informasi tentang Oprah kepada siapapun).

Oprah membeli semua hak atas foto-foto komersilnya. Oprah melindungi rapat-rapat privasinya.

Apa berdasarkan ini, saya merasa penulisnya agak sinis pada tokoh yang ditulisnya.

Ia sinis pada fakta bahwa Oprah pernah hamil dan melahirkan di usia belasan tahun. Juga pada opini bahwa pernyataan Oprah tentang masa kecilnya berbeda dengan pernyataan sang ibu. Pada persahabatan Oprah dan Gayle yang diindikasikan hubungan lesbian. Pada Stedman yang dianggap sebagai 'trophu boyfriend'.

Harusnya saya dengar kata suami yang bilang, "apalagi yang butuh lo ketahui selain dari apa yang sudah lo tahu dari tivi?".

Karena bahkan setelah baca buku ini, saya jadi gak yakin apakah saya jadi makin tahu, atau makin tidak tahu.
 

Berbagi isi buku Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare