
Dilatarbelakangi tamatnya film Harry Potter dan puasanya saya dari sesi beli buku baru, saya baca ulang buku Harry Potter yang pertama kali saya baca versi Indonesianya bertahun-tahun lalu. Kini saya baca versi Inggrisnya, yang juga sudah saya baca, lebih dari setahun lalu.
Harry yang mengira dunianya hanya akan berisi paman, bibi, dan sepupunya (semua gak puas-puas menganiaya Harry secara mental, fisik juga sih dikiiit), mendapati bahwa ada dunia baru yang lebih menarik. Dunia sihir. Dimana ia mendapatkan teman baik. Dimana dia belajar tentang sihir dari nol. Dimana dia merangkai kenangan tentang orangtua yang tak pernah dikenalnya (karena meninggal) saat ia baru berusia satu tahun). Dimana dia terkenal sebagai 'the boy who lived'.
Tapi ternyata, tak hanya di dunia manusia Harry berdekatan dengan orang-orang yang hobi membuatnya merana, di dunia sihir pun ada orang-orang yang bertekad membuatnya merana. Ada sesama murid yang gayanya tengil bener, ada profesor (guru di sekolah sihir dipanggil profesor) yang hobi menemukan kesalahannya dan menghukumnya.
Saya selalu terharu pada bagian-bagian dimana Harry memikirkan orangtuanya (ingat ya, pas baca ini saya kan uda khatam baca semua Harry Potter). Being an orphan, I understand that most of the times, all we ask is jut ONE MORE DAY WITH THEM. Just one more day.
Tahun pertamanya di sekolah sihir ternyata tidak hanya berisi pelajaran-pelajaran ajaib. Tapi ada pertandingan Quidditch(rebutan bola pake sapu terbang) dimana Harry jadi pemain kunci, ada cermin ajaib yang membuatnya bisa melihat orangtuanya, ada jubah ajaib yang membuatnya tak kasat mata, dan ada petualangan menyelamatkan batu ajaib yang bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Bagia favorit saua ada dua:
1. Jawaban Dumbledore ketika Harry menanyakan cara kerja cermin ajaib.
2. Alasan Dumbledore memberikan nilai pada Neville yang dishir sehingga terikat kakinya ketika berusaha mencegah HArry cs keluar asrama.
Ada yang masih inget apa kata Dumbledore pada dua bagian di atas?
Sebenernya dahulu kala pas pertama kali baca buku ini, saya belum menemukan keistimewaa buku ini. Mungkin karena dulu juga yang saya baca novel cinta-cintaan melulu. Bahkan buku ini saya baca semata-mata karena haus bacaan (gratis) aja. Baru setelah menamatkan buku ketujuh dan membaca ulang semua bukunya secara berurutan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, saya terpana dengan imajinasi bu Rowling dalam menciptakan cerita ini. Astaga dragon... sapa gak pecah itu kepala? Tujuh buku, banyak karakter, banyak kisah, hampir semuanya menarik. Saya aja kadang mau bikin postingan blog kelupaan ide awalnya apa.
Mari kita lanjut dengan Harry Potter berikutnya, setelah selingan Pride and Pejudice dan The Clien (John Grisham).